Ibadah haji terdiri dari rangkain-rangkain ritual yang
saling berkesinambungan, merupakan warisan tardisi turun-temurun yang
didalamnya terdapat pesan baik secara eksplist maupun inplisit yang kerap mendekati
makna esoteric. Muatan nilai-nilai yang terismpan dalam ibadah haji itulah yang
akan mengantarkan kepada sejatinya manusia sebagai hamba, dan mahluk social.
Tujuan ibaadah haji yang dilakukan umat islam bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan
diri kepada-Nya. Hakikat manusia sebagai makhluk dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji,
dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk
kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada
akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman
kemanusiaan universal.
Ihram :
Disinilah pijakan pertama kali ritual ibadah haji di mulai, meliputi mandi sunah, mengenakan pakaian ihram, niat dan
sholat sunah 2 rakaat.
Niat merupakan pilar bagi semua ibadah. Maka tidak salah
jika nilai sebuah ibadah tergatung pada niatnya dan kesempurnaan ibadah
terletak pada prakeknya.
Ihram terdapat berbagai muatan nilai berupa theologis bahwa
esensi haji absolut sebagai bentuk panghambaan kepada sang pencipta, dengan
niat pengesaan tanpa elemen-elemen duniawi. Dimensi pisikologis setiap manusia
akan merasakan gejolak jiwa ketika bertemu dengan yang disukainya, baik berupa
perasaan senang, khawatir, takut dan lain sebagainya. Seperti hal nya ketika Ihram
saat melepas semua pakaian berjahit dan berniat melakukan haji dengan segala
bentuk ritual yang disyariatkan, berbagia rasa berbaur dalam hati manusia.
Hingga mencapai sebuah puncak pengalaman spiritual manusia yang bersifat
universal.
Thawaf: yakni
mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Al Qur’an menyebutkan Ka’bah merupakan
rumah yang pertama kali dibagun (lht surat Al-Imran:96), Pelatakan batu pertama
oleh nabi Ibrahim As pada central bumi berdasarkan ilham ilahi, Ka’bah secara
vertikal satu titik dengan baitul ma’mur yakni tempat dimana para malaikat
bertawaf. Sains telah mengungkap sebuah fakta bahwa Ka’bah terletak di central
bumi, sebagi syimbol rotasi alam semesta dimana matahari sebagai pusat tata
surya dikeliling oleh pelanet-pelanet. Disebutkan
dalam riwayat bahwa ritual thawaf pertama kali dilakukan oleh nabi Adam As.
Sebagi bentuk tobat kepada Allah Swt. Ka’bah dikelilingi oleh jutaan umat
muslim diseluruh dunia dengan membentuk putaran yang memusat pada satu titik,
dengan penuh pengharapan, kerendahan diri dan penyucian jiwa. Semua manusia
ketika berthawaf memusatkan gerakan kepada Ka’bah meski himpitan dan desakan
tak dapat dihindari.





